Cara Perbanyak Pohon Tin (stek)

Awal mula saya melakukan eksperimental memperbanyak pohon tin dengan cara stek, bukan dari pohon yang saya miliki, karena pohon yang saya beli pertama belum tumbuh besar, melainkan dengan membeli online, dari proses ini saya belajar banyak, karena memang banyak yang gagal daripada yang berhasil 🙂

Poin yang paling sering saya alami kegagalan adalah “leaf before root” muncul daun lebih dahulu daripada akar, karena dalam menanam saya masih amatir, ketika melihat daun tumbuh perasaan senang tentu tak terbendung, dengan keterbatasan pengetahuan, saya beranggapan daun butuh sinar matahari untuk berkembang, akhirnya saya jemur batang yang sudah muncul daun tersebut, beberapa jam kemudian daun layu, kering dan akhirnya tak terselamatkan. Dari proses ini saya belajar kembali mengenai cara stek pohon tin.

Saya coba update teknik yang dilakukan dalam kurun 2 tahun belakangan ini, yg pertama bisa dilihat di gambar, model sungkup dengan plastik, untuk menjaga kelembapan, media tanam sekam mentah dan kompos, tingkat keberhasilan 30-60%, sebagian besar kegagalan terjadi ketika buka sungkup dan repoting ke media lebih besar. Dari pengalaman ini sy kemudian membagi poin penting ketika melakukan stek, yaitu:

  • Media tanam, ini faktor terpenting menurut saya, karena sering sekali saya mengalami media tanam di gelas plastik terlihat ada hewan kecil seperti ulet, atau bintik-bintik jamur yg menjalar di batang semakin lama semakin bertambah. Atau tiba-tiba batang kisut karena kering medianya. Disini pengalaman yg sudah saya lakukan adalah tidak lagi menggunakan sekam mentah, melainkan hanya sekam bakar saja, atau dicampur sdikit dengan kohe halus (yg sudah dipastikan matang). Beberapa teman penghobi tin ada yang menggunakan pasir murni, kemudian cocopeat yg sudah dibilas, ada jg sekam lapuk, media untuk stek yang sy amati bukan butuh yang kaya nutrisi, melainkan yang minim dari patogen atau jamur.
  • Bibit/ batang, saya salah satu yang setuju ukuran batang menentukan keberhasilan stek, pengalaman dengan diameter stek 3 cm, lebih banyak berhasil dibaning dengan batang hijau berdiameter kurang dari 1 cm. Kemudian batang yg sudah terlihat kalus (bintik calon akar) lebih tinggi keberhasilannya daripada yang belum terlihat, ada beberapa cara memunculkan kalus, yang sering saya lakukan (jika memiliki pohon indukan) yaitu kerat batang, bungkus plastik hitam, tunggu 3-5 hari, ketika sudah muncul kalus baru potong batang tersebut untuk di stek. Cara yg lain, ini unik sih, karena entah males atau penasaran, biasanya abis prunning saya celupkan batang di akuarium sekitar 3-5 hari, kemudian keliatan kalus, baru sy tuncep ke media tanam, atau bisa jg di taro tempat yg lembab dengan dibungkus tisu atau kertas basah, selama beberapa hari kemudian baru di tuncep. Oiya menurut saya yang tidak kalah penting ketika abis potong batang, segera cuci dengan air mengalir batang tersebut hingga bersih, pernah saya coba langsung eksekusi namun batang malah busuk, jangan lupa perhatikan gunting untuk memotongnya, pastikan dicuci bersih juga.
  • Kelembapan, ini poin yang membuat beberapa pemula seperti saya kebingungan ketika ingin eksekusi, ada yg disungkup, ada yg asal tancap, ada yang dimasukkan box stereofom, ada yang diwrapping plastik, lalu mana yang paling efektif? jawabannya bergantung ke poin setelah ini, selain itu jika kita memiki alat tambahan, misal alat pengukur kelembapan akan lebih baik, kita dapat mengkondisikan ruangan yg ideal untuk stek, saya sudah melakukan beberapa teknik sungkup dan tanpa sungkup dan yang paling efektif adalah dengan wrapping batang, kemudian melakukannya di bulan agustus, ketika sy melakukan di bulan november banyak yg gagal. Jika ditanya cara yang lebih minim kegagalan tentu saya menjawab dengan cangkok, namun stek tetap saya lakukan untuk memanfaatkan batang hasil prunning.
  • Cuaca dan iklim, faktor ini perlu diperhatikan juga, keberhasilan stek di musim hujan dan kemarau akan berbeda, tentu akan terkait dengan faktor sebelumnya yaitu humidity/ kelembapan. Bagi saya yang tidak memiliki green house atau alat pengukur kelembapan perlu mempertimbangkan hal ini. Yang saya pernah lakukan di musim kemarau saya menggunakan baki/ tatakan yang diisi air, agar media tidak cepat kering.
  • Bahan pendukung, Seringkali di awal saya salah fokus, poin ini saya jadikan terpenting, misal, obat perangsang akar, anti jamur, plastik sungkup, plastik wrapping, gelas plastik yg dilubangi, padahal ini poin yang digunakan untuk meningkatkan produktifitas, misal dengan bawang merah bisa lebih cepat muncul akar, tapi dengan obat perangsang akar akan lebih cepat lagi. Menggunakan fungisida namun media banyak patogen tetap stek keberhasilannya akan menurun. Jika kita sudah memahami poin secara hirarkis, poin ini membuat produktifitas kita semakin meningkat.

Saya pun masih belajar menanam pohon tin, namun saya hanya ingin berbagi pengalaman saya selama 2 tahun belakangan ini, tips dari saya yaitu mulai dari varian yang adaptif misal green yordan, brown turkey, purple yordan, atau red palestine, hindari varian belang dulu, kemudian temukan racikan media tanam yang tepat, jalani dahulu (tahan menambah jumlah cutting atau varian) hingga bibit berhasil FSFR (full sun full rain), biasanya sekitar 2-3 bulan.

kurleb 400 an stek
jemur pagi
kondisi FSFR

Semoga berhasil, salam stek 🙂

pondoktin.com

Back to Top
× Hai, butuh bantuan?