Mengenal Pohon Tin

Seinget saya hobi ini berawal di tahun 2018, dari mulai peraturan pemerintah kota Tangerang untuk menanam pohon minimal 3 tanaman di depan rumah masing-masing. Berawal dari hal tersebut akhirnya saya menemani istri membeli tanaman beserta peralatan serta pot warna warni. Seru pastinya, terlihat bukan hanya 3 tanaman, tapi banyak, hahaha… Sebagian besar tanaman bunga yang menjadi pilihan istri saya, warna bunga pun disesuaikan dengan potnya, selang kurang lebih 2 bulan pemandangan seperti di foto berubah, ternyata merawat tanaman bunga tidak semudah membelinya, selanjutnya tanaman banyak yang kering dan mati.

Ketika istri sudah terlihat mulai jenuh merawat tanamannya saya mulai membeli pohon bidara, tin, dan zaitun, kemudian mencoba menjadikan tanaman tersebut trigger untuk hafalan anak saya, yaitu surat At Tin, Alhamdulillah ketika memilikinya anak saya lebih cepat hapal. Singkat cerita akhirnya pot banyak yg menganggur karena hampir semua tanaman bunga terbengkalai. Saya pun mencoba belajar memperbanyak (propagating) ketiga jenis tanaman yang saya beli, pertama zaitun, saya mencoba microcutting, kemudian bidara dengan biji, dan terakhir pohon tin dengan stek.

Untuk pohon zaitun saya akhirnya menyerah, sampai indukan yang saya beli menjadi botak namun tidak satu pun berhasil tumbuh akar, ada sedikit yang muncul tunas, namun setelah menunggu 2 bulan lebih, dibuka sungkupnya bbrp hari tunasnya pun layu. Kemudian untuk bidara ternyata mudah menanamnya, namun pohon yang pertama saya beli semakin tumbuh besar durinya sering mengenai saya dan anak saya, jadi saya urungkan memperbanyak, beberapa yang berhasil tumbuh banyak yang saya kasi gratis ke orang. Opsi terakhir yaitu tin, untuk jenis ini diawal mungkin banyak PHP (pemberi harapan palsu), ketika berjalan 2 pekan stek tumbuh, akhirnya beli lagi jenis lain, tumbuh lagi, beli lagi hingga memiliki beberapa varian, ternyata masalahnya ketika repoting, beradaptasi dgn hujan dan sinar matahari agar FSFR (Full Sun Full Rain).

Hampir menyerah juga untuk perbanyak pohon tin ini, namun jika saya tidak memulai halaman depan akan mubazir, ilmu beberapa bulan belajar propagating tanaman pun sayang jika tidak dimaksimalkan. Akhirnya coba gabung dengan komunitas, belajar langsung ke senior, salah satunya Om Fajar ayah Rafa di Ciledug, beliau sabar ditanya sama saya dengan rentetan pertanyaan. Kemudian rajin kopdar di komunitas tin indonesia, disana mulai belajar substansi menanam pohon tin. Disini nanti coba saya jabarkan yah, daripada nasibnya seperti saya yang sudah membeli banyak jenis stek dan eksperimental berbulan-bulan namun belum dapat substansinya.

Okay saya lanjut lagi, Ketika di tahun 2019 saya sudah mulai gas pol dengan tanaman ini, salah satu buktinya sudah lebih dari 100 pohon sudah saya bagikan, hahaha… iya bukan jualan tapi dikasiin ke orang, karena beberapa bahan stek saya pun dapat gratis dari teman dekat, sekolah anak saya, dan teman di komunitas tin. Selain itu area di sekitar rumah saya terbatas, ga sebanding kecepatan saya propagating dengan area tanam pohon tersebut. Alhasil banyak yang saya bagikan free, sampai qodarullah saya mendapat lokasi lahan idle di Cibinong, Bogor.

Oiya poin pertama jika anda ingin memulai menanam pohon ini cek space halaman anda, ga perlu besar, asalkan bisa menaruh pot diameter minimal 50 cm, dan terkena sinar matahari diatas 4 jam anda bisa mulai. Lebih baik lagi jika halaman anda menghadap selatan dan terkena sinar matahari lebih dari 6 jam. Gak perlu rajin-rajin amat kok, soalnya penyiraman bisa 3 hari sekali, bahkan musim hujan gak perlu siram, aman lah dibandingkan ngurus tanaman bunga.

Saya sampai lupa kenapa memilih pohon tin, saya coba jabarkan sedikit deh disini, selain karena faktor peraturan pemkot dan tanaman bunga istri saya, sebenarnya ada tujuan yang kuat sampai saya tetap bertahan memilih tanaman ini sebagai hobby, pertama ini tanaman buah yang cepat prosesnya, salah satu contoh saya menanam varian super jumbo, ga sampai 8 bulan sudah bisa merasakan buahnya, itu dari fresh cangkok lho, bukan beli bibit sudah besar. Kedua buahnya warna warni, variannya ada 700 lebih, kebayang kan kalo jago grafting bisa bikin 1 pohon buahnya warna warni, secara saya desainer ngeliat buah berwarna tentu dari segi estetis lebih sedap dipandang. Ketiga rasa buahnya manis, walaupun belum bisa ngalahin duren dan sawo (buah favorit saya), tapi masih tergolong enak jika dikategorikan sebagai tanaman obat. Keempat khasiatnya buanyak, salah satu universitas di USA memberikan statement ini salah satu buah yang nutrisinya mendekati sempurna. Saya dengar jaman dulu pun bermodal buah tin kering dan air zamzam orang bisa berbulan-bulan menyusuri gurun pasir, ditambah lagi tanaman ini sempat dijadikan makanan pokok. Jika saya sebutkan testimoni dari orang yang mengkonsumsi buah serta daun tanaman ini bakal puanjang, kalian bisa googling deh, serius buanyak banget manfaatnya. Kelima menurut saya paling penting yaitu dari sisi religi, tanaman ini disebutkan menjadi penutup aurat Nabi Adam, kemudian satu-satunya yang dijadikan nama surat di Al Quran, di beberapa kitab suci agama lain pun ada, beberapa sumber menyebutkan ini salah satu pohon surga. Poin terakhir ini yang saya yakin bahwa pohon ini bukan “monkey business” tidak terpengaruh tren.

Kita kembali lagi ke pembahasan awal, setelah menyediakan space menanam, poin berikutnya adalah belajar mengenal media tanam. Ini bagian yang saya sampai berbulan-bulan mengeksplore, karena saya bukan berlatar belakang pertanian, jadi namanya tanah yah sama aja, adanya tanah subur dan tidak, tanah subur disebut humus, nah itu doang ilmu yang saya ketahui ketika mulai menanam. Kemudian mencoba browsing sana sini, mencontek beberapa senior, celakanya ga selalu cocok dengan iklim serta suasana di tempat saya. Saya akan bahas sedikit tentang media tanam disini, bagaimana agar tanaman tin anda aman.

Pohon tin menyukai media yang porous, ketika kita siram airnya langsung turun, tidak menggenang, itu salah satu poin penting, jika grounding di tanah usahakan lubang galian lebih dalam dan besar, isi dengan media porous terlebih dahulu agar akar hingga usia 3-4 bulan beradaptasi, karena karakter akar pohon tin ringkih, terlihat tebal namun mudah patah. Biasaya saya dan para senior menggunakan campuran sekam atau pasir sungai dicampur dengan kompos atau kotoran hewan, nah poin berikutnya hati-hati dengan kompos maupun kotoran hewan, karena pengalaman saya belum tentu yang kita beli kondisinya sudah matang/ aman untuk tanaman tin. Salah satu trik yang saya lakukan biasanya mencium kohe atau kompos, setelah itu memasukkan tangan saya ke dalam, jika bau kohe masih tercium (bukan bau tanah) kemudian saya merasakan suhu hangat dari tangan saya biasaya kohe atau kompos tersebut belum matang. Jika saya mendapatkan hal seperti itu biasanya yang saya lakukan media saya peram dicampur EM4+gula atau dibiarkan di pot/ planterbag tidak ditanam selama 1-2 pekan.

Selain itu media tanam di pot/planterbag harus mengerti dengan asupan nutrisi, berbeda dengan di grounding, dimana akar tanaman bebas serta leluasa mencari nutrisinya. Sedangkan di pot/planterbag kita harus paham kapan perlu memberikan dolomit, mulsa, pemberian pupuk, ukuran pot/planterbag. Info penting yang saya dapat menjadi urbanfarmer agar lebih efesien media tanam mengandung carbon tinggi, saya biasanya menggunakan sekam bakar atau arang batok kelapa, karena fungsi carbon tersebut mampu mengikat/ menyimpan nutrisi agar ketika musim hujan atau penghobi telat memberikan pupuk, carbon tersebut melepas nutrisinya. Selain carbon untuk tanaman tin usia dini perhatikan media rawan jamur seperti sekam mentah atau kohe belum matang, sering sekali menyebabkan busuk akar dan batang, jika sudah terlanjur menggunakannya bisa diantisipasi dengan PGPR (jamur baik) googling aja detilnya yah, hehehe. Oiya saya tidak menggunakan pestisida serta pupuk kimia dalam menjalankan hobby ini.

Bahas media tanam aja udah udah panjang yah, tapi itu hal paling utama, yang menentukan tanaman bertahan hidup atau tidak. Langkah berikutnya memahami varian/ jenis tin. Varian paling adaptif di Indonesia adalah green yordan, warna buah matang hijau ukuran buah sedang, namun kelemahan jenis ini lama berbuah, biasaya ukuran batang utama sudah besar atau diatas 2 tahun, namun secara kekuatan pohon ini paling oke, harga pun paling ekonomis. Pendapat saya pribadi sih lebih baik untuk awal menanam jenis brown turkey, atau purple yordan atau iraqi atau red palestine, ketika matang warnanya bukan hijau, kemudian jenis tersebut belum setahun sudah berbuah (berdasarkan pengalaman). Namun buat eksperimental boleh nyoba green yordan dulu.

Setelah media tanam, varian, berikutnya pemilihan pot/planterbag, jika digrounding di tanah bahasan ini bisa dilewat, tapi jika tinggal di perkotaan tentu tabulampot (tanaman buah dalam pot) tidak bisa dihindari. Saran saya sebaiknya gunakan pot minimal diameter 50cm atau planterbag minimal 50 liter. Jika anda sudah expert dalam hal media tanam, pot kecil masih bisa dioptimalkan, tapi untuk pemula lebih baik cari yang aman dulu yah. Tips nya lagi jika menggunakan planterbag gunakan yang model tinggi, agar space lebih efesien dan jika menggunakan pot, beri lubang tambahan di sekeliling pot.

Setelah tanaman berhasil hidup dengan media tanam yang pas, varian adaptif sudah dipilih, pot/ planterbag pun sudah ada, poin berikutnya yang menentukan tanaman lambat numbuh, lama berbuah, buah rontok, daun pucat, banyak hama ini banyak faktor yang mendukung, namun berdasarkan pengalaman saya poin sinar matahari sangat menentukan, saya sudah mencobanya, di lahan dekat rumah antara pohon yang menghadap ke selatan dibanding pohon yang menghadap ke timur/barat lebih cepat berbuah yang menghadap selatan, malah yang menghadap barat hingga dua tahun ini belum mencicipi buahnya, ada yang berhasil berbuah namun rontok, sebagian tidak berbuah, hanya subur daunnya. Kemudian setelah sinar matahari yaitu air untuk penyiraman, di Bogor (menggunakan air sumur) jumlah buahnya lebih banyak dibanding di tempat saya yang menggunakan air PAM (diendapkan). Setelah faktor air yaitu pemupukan, tanaman berusia 1-3 bulan lebih banyak menggunakan pupuk dengan kadar N tinggi, atau cukup menggunakan kohe sapi/ kambing. Sedangkan pohon usia lebih dari 4 bulan mulai diberikan pupuk dengan kadar P dan K tinggi seperti kascing atau POC yang dibuat dari kulit buah.

Hal berikutnya adalah prunning, untuk merasakan buah dengan waktu cepat, harus rajin memotong cabang (prunning) yang terlalu banyak, agar nutrisi fokus ke buah, daun yang menguning atau berkarat pun harus segera disingkirkan agar nutrisi tidak mubazir. Kecuali memang kita tujuannya untuk dicangkok/ stek atau memanfaatkan daunnya, silahkan biarkan cabang pohon hingga lebat. Idealnya panen buah tin dilakukan pada musim panas, rasa buah akan lebih manis, namun poinnya disini adalah memulai menanam, soal rasa kita kesampingkan dulu.

Untuk propagating, singkatnya ada 3 cara yang paling sering dilakukan, pertama stek, kedua cangkok, ketiga grafting (bisa juga disambung dengan pohon loa), teknik propagating bakal puanjang lagi jika dibahas disini, belum lagi membahas hama tanaman ini, setiap daerah beda jenis hamanya. Saya hanya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman menanam pohon tin yang sudah hampir 2 tahun berjalan, mencoba mengembangkan dengan membuat brand pondok tin setahun yang lalu, fokusnya saat ini hanya menjual bibit pohon tin berbagai varian dan ukuran, pengiriman pun baru sekitar jabodetabek (menggunakan ojol atau taxi online)

Pohon tin yang saya jual hanya FSFR, namun jika anda ingin mencoba membeli yang fresh cangkok atau bahkan dari stek coba cari online aja di Jawa Tengah dan Jawa Timur setau saya banyak dengan harga lebih ekonomis. Semakin banyak yang menanam pohon ini kan bakal serasa di surga, bisa mengingatkan pemilik tanaman, namanya surga tentu tidak ada maksiat dan salah satu ikhtiar menciptakan rumahku surgaku.

salam surga,

C.TE

Back to Top
× Hai, butuh bantuan?