Zonasi kebun pohon tin

Tulisan ini saya mendapatkan inspirasi dari permaculture (permanent agriculture), walaupun ada poin yang menjadi kendala saya yaitu dalam permaculture tanaman harus heterogen, beragam tanaman agar manfaat lebih maksimal dan juga berfungsi meminimalisir hama. Namun konsep zonasi ini menurut saya sangat bermanfaat, khususnya agar aktivitas saya lebih produktif dan efesien. Sistem pembagian zonasi berdasarkan perawatan dan area sinar matahari.

Zona 1, saya menempatkan bibit yang perlu perawatan lebih di zona ini, biasanya bibit hasil turun cangkok, kemudian repoting setelah stek di dalam rumah, ada juga pot idle berisi media tanam, ketika habis prunning sedikit, saya tuncep asal ke pot tersebut, biasanya ada yg berhasil tumbuh, setelah usia 1-2 bulan baru saya pindahkan ke pot tersendiri. Ada sayuran juga yang saya tanam untuk ketahanan pangan di saat pandemi seperti ini, kemudian pohon tin yang di karantina karena sakit/ pertumbuhan kurang maksimal saya letakkan di zona ini. Hampir setiap pagi saya selalu mengecek area ini, jika ada hama atau bagian tanaman yang bermasalah langsung saya tangani.

zona 1

Zona 2, area etalase untuk jualan, perawatan di zona ini pun masih sering saya lakukan, karena namanya etalase harus terlihat terawat, di area ini tidak akan ditemukan daun kuning, berjamur, berkarat, hama kutu kebul atau daun terkena virus. Tanaman di area ini dipastikan subur dan good looking. Zona 1 dan 2 terkena sinar matahari pagi hingga siang (sekitar jam 2), namun di zona 1 masih sedikit rindang, tidak terpapar sinar matahari langsung, sedangkan di zona 2 ini matahari teriknya matahari langsung tertuju ke tanaman, beberapa kali ketika panas ekstrim daun tin menggulung dan layu, biasanya lngsung di prunning, atau beberapa jam ketika panas sempat layu, ketika sore tiba, kembali segar. Di zona ini tanaman yang dijual sudah kuat, sehingga konsumen pun tidak kecewa ketika membelinya karena sudah diuji kuat dari full simat dan hujan.

zona 2
zona 2

Zona 3, area untuk indukan dan calon indukan pohon tin, biasanya pohon berusia lebih dari 3 bulan yang ada di zona ini. Ada dua spot untuk zona ini, yang pertama terkena sinar matahari langsung dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore, yang kedua hanya terkena simat dari jam 1 siang hingga jam 4 sore. Pohon di zona ini banyak ditemukan bekas potongan, karena bekas di cangkok maupun cutting, varian yang ada di sini pun beragam, pohon di area ini tidak untuk dijual (kecuali terpaksa, hahaha). Zona ini pun saya jadikan area ujicoba varian, maksudnya mana yang produktif, adaptif dan kecepatan berbuah, yang lama, atau kurang produktif biasanya saya grafting/ sambung dengan yang produktif. Masih saya rawat, seperti pemupukan pembersihan hama dan gulma, namun tidak setiap hari, seperti zona 1 dan 2.

zona 3

Zona 4, area dengan minim sinar matahari, hanya 2 jam (dari jam 2 hingga jam 4), saya pernah mencoba meletakkan bibit di area ini ternyata hama terlalu banyak, ditambah kelembapan tinggi (bawahnya got) jadi beberapa tanaman busuk akar/ batang. Tanaman yang kuat diletakkan disini adalah loa, pohon ini dapat dijadikan rootstock untuk pohon tin, jadi saya perbanyak pohon loa dan meletakkan bibitnya di area ini, oiya tempat saya membuang ampas kopi juga di area ini jg. Secara penampilan kotor sih, bekas ampas kopi keliatan, tapi pohon loa tetap tumbuh subur disini.

zona 4

Zona 5, ini tempat media tanam bekas pakai, ada juga tempat sampah organik, saya tidak menempatkan tanaman di area ini karena simat hanya 1 jam, kondisinya hampir sama dengan zona 4, banyak hama dan terlalu lembab.

zona 5

Area yang saya gunakan sebenarnya sempit, namun lebay juga pake zona begini, hahaha. Tapi konsep ini bisa digunakan ketika area lebih besar, Alhamdulillah diberi kesempatan belajar di lahan sempit dahulu tentang zona ini.

salam permaculture

pondoktin.com

Back to Top
× Hai, butuh bantuan?