Mengatasi stagnan

Pengalaman saya menghadapi stagnan pada pohon tin biasanya sehabis repoting (potting up) ke media yang lebih besar, tentu sebelum mengambil tindakan sebaiknya mengetahui terlebih dahulu penyebab masalah tersebut. Beberapa masalah yang saya temukan ketika terjadi stagnan antara lain:

01.

Belum matangnya media tanam, jika kita membeli kompos jadi di toko pertanian tidak menjamin kompos tersebut telah matang, kadang ketika saya cium masih bau kotoran dan ketika saya masukkan tangan ke dalam kompos tersebut masih terasa hangat, salah satu cara lagi menentukan matang tidaknya kompos dengan mengambil segenggam kompos tersebut lalu masukkan ke dalam ember berisi air, jika tenggelam berarti kompos sudah matang, jika mengambang berarti belum. Proses pematangan media paling lama 3 bulan, saya sengaja menambahkan mulsa agar proses pematangan lebih cepat (kelembapan terjaga). Jika kita sudah terlanjur memindahkan tanaman ke pot/ pb yang lebih besar lalu media tersebut belum matang, salah satu cara yaitu menunggu pematangan media, jika bibit yang dipindahkan kondisinya sudah sehat, maka pohon tersebut hanya berdampak stagnan, jika kondisinya kurang fit, atau termasuk kategori varian tin yang rentan, makin lama akan busuk akar/ batang.

02.

Butuh beradaptasi, tekanan dari gaya gravitasi pada pot/ pb besar lebih besar dibandingkan yang kecil, tanaman butuh penyesuaian, belum lagi kondisi media tanam berbeda, misal yang lama lebih banyak sekam bakar, sedangkan yang baru kompos lebih banyak, jadi tanaman butuh beradaptasi, prosesnya butuh beberapa pekan, jika sudah terlanjur, solusinya menunggu sekaligus dirangsang dengan beberapa langkah yang nanti saya sebutkan caranya.

03.

Terkena nematoda, salah satu penyakit yang dialami oleh pohon tin yaitu bintil pada akar (akar bengkak kecil) hal ini mengakibatkan tanaman menjadi lama pertumbuhannya, sebagian besar stagnan. Ketika terkena nematoda langkah yang diambil yaitu cangkok/ stek tanaman tersebut, karena saya pernah coba prunning akar yang terkena nematoda, kemudian ketika repoting tanaman mati, ditambah lagi repot sekali menemukan akar yang bermasalah, membutuhkan waktu lama.

Permasalahan lain seperti kondisi sinar matahari, kelembapan, kandungan pH pun menentukan, beberapa sebab ini bisa kita rangsang dengan cara:

  • Memotong pucuk pohon, secara teori hal ini memacu hormon auksin (hormon pertumbuhan), kemudian tutup plastik atau lilin atau pasta kambium agar penguapan tidak terlalu tinggi.
  • Kerat batang setengah, seperti ingin mengcangkok, namun tidak sampai sekelilingnya dikerat, biasanya bagian bawah keratan akan muncul tunas baru yang tumbuh
  • Mengolesi pucuk dengan getah tin, ini saya juga kurang tau detilnya, tapi pernah saya lakukan dan berhasil pecah tunas
  • Memangkas cabang (jika terlalu banyak) sisakan minimal 3 cabang, pasokan nutrisi akan lebih terpusat.
kerat setengah
oles pucuk
pangkas cabang

Empat poin tersebut yang sering saya lakukan, ada juga beberapa cara yang jarang saya lakukan seperti mengolesi bawah merah ke bagian batang dan pucuk yang stagnan, kemudian mengkopek/ kelupas calon mata tunas yang masih tertutup, hingga terlihat warna hijau, ini pun bisa merangsang pertumbuhan. Malahan beberapa teman sehobi ada yang mengajak ngobrol, mengusap-usap atau mengancam akan memotong jika tidak tumbuh tunas baru, hehehe.

Oiya poin yang disebutkan diatas setelah saya sudah memupuk pohon stagnan dengan kandungan N tinggi, saya biasa menggunakan POC sayur/ daun, kemudian setelah 2 pekan saya tunggu tidak ada perubahan, barulah saya ambil langkah di atas. Kenapa 2 pekan menunggunya? karena saya beranggapan pohon sedang fokus menumbuhkan akar agar lebih kuat. Namun jika sudah dicoba semua, kemudian selama 3 bulan masih juga stagnan, saya biasanya akan mencangkok atau stek pohon tersebut.

C.TE

Back to Top
× Hai, butuh bantuan?