Panen Kompos

Saat ini saya tinggal di kota Tangerang, yaitu di komplek perumahan lama, namanya Pondok Bahar Permai, dekat pintul tol Cipondoh, Greenlake, Karang Tengah. Pengamatan saya di daerah Pondok Bahar dan sekitarnya belum pernah menemukan ada komposter yang berjalan sebagaimana mestinya, sempat menemukan tong komposter yang diberikan oleh pemkot Tangerang, namun fungsinya sama dengan tempat sampah biasa. Ketika menemukan ada yang mengelola sampah organik ternyata lokasinya beda kecamatan, saya di kecamatan Karang Tengah, Mas Edy founder @zero_organic_waste (akun ig-nya) di kecamatan Cipondoh, butuh perjalanan kurleb 10-15 menit kesana, Beliau pun budidaya cacing (vermicompost) dalam mengelola sampah organik.

Maksud saya menjabarkan poin diatas yaitu jarangnya kesadaran masyarakat terhadap sampah organik, khususnya di kota Tangerang, kondisi pandemi saat ini jumlah sampah organik pastinya semakin bertambah, jika kita tidak mengelolanya tentu semakin bertambah masalah pemerintah mengelola TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Namun saya tetap optimis kedepan akan semakin membaik, salah satu tandanya kemarin saya melihat toko pertanian ramai pembeli, saya pun kehabisan membeli sekam bakar, berarti disaat pandemi ini banyak orang yang mulai belajar menanam, ketika sudah mulai bercocok tanam biasanya masyarakat perkotaan ingin yang hasilnya berkualitas, maka beralih ke produk organik, ketika sudah ke tahapan ini, mereka bukan saja bertanam, melainkan belajar mengelola hulu dan hilir, salah satunya sampah organik.

Komposting merupakan salah satu teknik dalam mengelola sampah organik, khususnya sampah rumah tangga, dan ini bukan sekedar perkara ramah lingkungan saja, melainkan ibadah, sebagai umat beragama kita diperintah untuk memakmurkan bumi, dengan mengelola sampah organik, kita mengurangi gas metana yang mengakibatkan kerusakan gas rumah kaca yang berdampak pemanasan global serta perubahan iklim (perusakan bumi). Jadi dengan langkah kecil mengelola sampah organik kita ikut memakmurkan bumi lho…

tidak takut cacing
proses pemilahan

Udah ya intronya, kita kembali ke judul tulisan ūüôā Jadi saya sebenarnya lumayan asal-asalan dalam menjalankan cara membuat kompos, idealnya kan ada ilmu mengenai sampah hijau dan coklat berapa kadar persentasenya kemudian proses membolak balikkan sampah secara rutin agar panasnya merata, nah untuk hal detil tersebut saya tidak menjalankannya, sederhananya saya siapkan komposter, isi dengan sampah dapur/ rumah tangga, ditambah sampah daun yg berserakan lalu jika tercium bau busuk sedikit saya tambahkan EM4+gula. Setelah hampir penuh saya kunci/ tutup lakban deh komposternya (sy menyediakan dua komposter), tunggu beberapa bulan, panen deh.

Awalnya model panen, buka velcro di bagian bawah, ambil kompos yang sudah matang, ternyata tidak berjalan mulus, karena bagian bawah beberapa berlubang karena di gigit tikus, akhirnya saya tutup kawat, selain itu jika saya panen dari bawah, kelabang dan kecoa berserakan menghampiri saya, itu hal yang menjijikkan, hehe. Jadi sekarang panen yang saya lakukan, tumplek di jalanan depan rumah, tunggu beberapa menit, ratakan dengan pengki, tunggu lagi (biasanya binatang yang menjijikkan sudah kabur) baru deh saya panen sambil dipilah, karena masih ditemukan plastik kecil hasil guntingan bumbu mie instant atau sabun cuci piring.

Malah sekarang komposter sedang tidak saya pakai, sudah bersih saya cuci, rencananya akan saya pergunakan di tempat tinggal baru, jadi sementara saya menggunakan karung. Melihat cara panen saya seperti itu, karung juga masih bisa digunakan. Walaupun hanya butuh beberapa hari lubang sudah terlihat karena keganasan tikus, sederhananya nanti saya tutup lakban hitam, muncul lubang baru, tambal lagi, begitu seterusnya, logika saya sih, tikus kan beraksi hanya malam hari, sedangkan saya bisa beraksi kapan saja, hahaha.

Oiya poin penting yang sy lakukan ketika membuat kompos, jangan saklek dengan waktu, maksudnya jika kita membaca 2-3 bulan sudah bisa panen, hal tersebut jangan dijadikan patokan, namanya komposter biasanya ketika hampir penuh nanti bakal berkurang hampir tigaperempat karena sampah sudah mulai terurai, jadi maksud saya yang menjadi patokan adalah penuh tidaknya komposter tersebut, kemudian jika model kompostingnya seperti saya (asal-asalan) amannya setelah 6 bulan baru panen. Beberapa kali saya panen kompos ketika dicium sudah bau tanah, kemudian diaplikasikan ke tanaman tumbuh subur, berarti sudah dipastikan matang. Okay selamat mencoba bagi yang belum memulai, jangan kendor jika ada omongan negatif dari tetangga (biasanya mereka belum tau ilmu dan manfaatnya) nanti kedepan hal ini akan menjadi kebiasaan kok, ketika tetangga mengikuti kebiasaan kita InsyaaAllah ini menjadi pahala buat kita juga, Aamiin, semangaat!

C.TE

Back to Top
× Hai, butuh bantuan?