Kebun & Taman dalam Peradaban Islam

Alhamdulillah hari ini saya mendapatkan kajian menarik dari Ust. Budi Ashari Lc. Beliau memaparkan beberapa model kebun dan taman di jaman kejayaan peradaban muslim. Saya kesulitan menulis resume dari kajian Beliau karena banyak poin pentingnya, ketika ingin diedit kok sayang, materi berisi daging semua istilahnya 🙂 Saya coba menggunakan kerangka berpikir yang sering saya pakai, yaitu masalah beserta solusi. Diawal Ust. Budi membahas tentang keterkaitan taman/ kebun dengan keindahan, di dalam surat Anaml ayat 60 dan juga hadist shahih disebutkan tentang hal ini. Beberapa slide yang diperlihatkan Ust. Budi tentang taman di Andalusia keindahannya sangat berkarakter dan memukau, bahkan James Dickie (pakar tentang Andalus) mengeluarkan statement,

Bumi di tangan muslimin lebih indah dibanding hari ini

Bahasa yang digunakan Ust. Budi yaitu estetika Eropa sering terjadi kontradiksi tajam ketika membahas tentang arsitek, saya sedikit paham dengan poin tersebut karena sewaktu jaman kuliah sempat belajar sedikit tentang perkembangan seni rupa barat, sebagian besar bahasannya di kawasan Eropa. Kekuasaan sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni di sana, dalam bahasan ini yaitu estetika. Kontradiksi yang paling tajam diamati oleh James Dickie yaitu muslimin memandang taman sebagai pokok dan bangunan mengikutinya. Hal tersebut pun diamini oleh M. Ilhami (peneliti peradaban Islam dari Mesir), yang menyatakan: Dunia Islam seakan lembaran hijau. Tidak ada orang yang mencintai keindahan pada sesuatu kecuali ia membangun taman atau membangun sesuatu yang di dalamnya ada taman: istana, masjid, rumah sakit, sekolah dll. Selain itu Beliau menyampaikan Ayat dan Hadits adalah guru pertama muslimin dalam membuat taman-taman mereka, menurut saya ini dasar yang membuat karakter taman di Andalusia ketika Islam berjaya disana sangat kuat. Sedangkan dalam perkembangan arsitektur eropa bahkan hingga saat ini para pakar arsitek memandang bahwa taman adalah kelengkapan arsitektur bangunan.

Poin berikutnya yang menurut saya sangat relevan di jaman sekarang yaitu James Dickie mengungkapkan ilmu pertamanan ini merupakan salah satu cabang dari ilmu pertanian, maka arsitektur landscape hanya merupakan ringkasan dari ilmu pertanian. Beberapa yang saya temukan arsitektur landscape berlatar belakang desainer atau arsitektur bangunan, alhasil fokus mereka bukan kepada karakter, fungsi serta manfaat dari pohon/ tanaman, melainkan hanya sebatas keindahan visual semata, seperti bentuk, warna, layout, dll.

Bahasan berikutnya yang dipaparkan Ust. Budi yaitu “surga sebelum Surga” dalem sebenarnya untuk membahas ini, Ust. Budi pun hanya membahas sedikit sebagai pengantar, Beliau memaparkan beberapa muslimin ada yang membuat pohon kurma dilapisi emas, kemudian dibuat aliran air, dari pohon kurma tersebut menuju ke kolam-kolam. Kebayang kan jaman peradaban Islam dahulu, kebangetan sejahteranya sampai emas dibuat melapisi pohon, dan terpenting karena ingin merealisasikan hadist yang membahas tentang surga, bagi saya ini bukan sekedar statement, melainkan konsep hidup.

Turunan dari konsep ini kita bisa pecah jadi beberapa poin sesuai yang disampaikan para pakar,

01. DR. M. Yahya Waziri (Arsitektur Islam dan Lingkungan)

Mengutip perkataan beliau, Potret AL QURAN dan HADITS tentang SURGA yang di dalamnya ada kesenangan FISIK dan JIWA, selain untuk mengatasi keadaan alam yang keras, hal di atas merupakan pendorong kuat muslimin untuk menuangkannya pada taman-taman Islam.

Desain Taman Islam menurut Beliau memiliki 5 poin:

  • Fungsi pohon dan tumbuhan,
    • Dipetik buahnya
    • Dinding yang melindungi pandangan mata ke bagian dalam
    • Memberikan naungan
    • Melindungi agar panas matahari tidak langsung menimpa dinding bangunan
    • Keindahan
  • Air dalam berbagai fungsi
    • Air mancur atau saluran air
    • Saluran air yang dilindungi oleh pepohonan dari terik matahari. Saluran yang dikecilkan agar mengurangi penguapan dan memberikan pantulan yang indah.
    • Mengurangi penggunaan air yang mengubah desain saluran air
    • Memercikkan air enggunakan water jets untuk menghadirkan rasa yang indah, suara lembut dan mengkondisikan cuaca dengan penggunaan air seminimal mungkin
    • Tidak membuang-buang air. Karenanya air yang mengalir tidak dibuang begitu saja, tapi digunakan ulang untuk menyirami tanaman, seperti kebun jeruk yang ada di Masjid Sevilla
  • Tempat duduk terbuka dengan naungan. Biasanya diletakkan di dekat pepohonan atau tumbuhan atau gemiricik air. Perhatikan inspirasi surgawi berikut: (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam tenda (rumah). (Qs. Ar Rahman: 72), di dalam hadist shahih pun tertera, Sesungguhnya bagi seorang mu’min di dalam surga ada tenda (rumah) dari satu mutiara yang dilubangi, panjangnya 60 Mil, bagi seorang mu’min di dalamnya ada keluarga-keluarga, dia keliling menemui mereka dan tidak saling melihat satu sama lain. (HR. Muslim)
  • Aroma wangi dan suara indah
    • dalam surga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. (Qs. Al Ghasyiyah)
    • adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh (رَوح/peristirahatan dan kesenangan) dan (ريحان/aroma wangi) serta jannah kenikmatan. (Qs. Al Waqi’ah)
    • Ada beberapa riwayat dalam hadits tentang aroma surga yang bisa dicium dari jarak:
      • 40 tahun perjalanan(HR. Bukhari)
      • 70 tahun perjalanan(HR. Tirmidzi)
      • 100 tahun perjalanan(HR. Thabrani)
      • 500 tahun perjalanan (HR. Abu Nu’aim)
      • 1000 tahun perjalanan(HR. Thabrani)
  • Huruf dan tulisan arab, Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (Qs. Al Kahfi: 39), kemudian Dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Seseorang masuk ke dalam Surga, ia melihat tulisan di pintunya: SHODAQOH BERNILAI 10 KALI LIPAT DAN PINJAMAN BERNILAI 18 KALI (HR. Ath Thabrani dan Al Baihaqi, dihasankan oleh Al Albani)

02. Muhammad Al Qonur (sumber haspresse.com), menurut Beliau ada berbagai faktor yang mempengaruhi model taman dalam peradaban Islam:

  • Faktor ruh atau pengaruh agama Islam
  • Faktor lingkungan dan pengaruh alam setempat
  • Pengaruh peradaban lama di tempat tersebut
  • Faktor aplikasi di lapangan
  • Faktor kreatifitas dan keindahan

03. Prof. DR. Echart Ehlers (Bonn University, Germany)

Jauh dari fungsi, tempat dan luas, semua taman-taman Islam dalam timbangan kecil ataupun besar dari ilmu arsitektur, tulang punggungnya dan pusaran bangunannya adalah saluran-saluran air, baik dalam bentuk kamar mandi dengan berbagai keindahan, saluran-saluran, kolam-kolam yang dikelilingi oleh telaga bunga dan tempat rekreasi yang melapangkan dada.

Di kedua sisinya areal hijau (rumput, telaga bunga, pohon besar dan pohon kecil) dalam berbagai bentuk arsitektur yang saling berhadapan seakan ada di sebuah cermin. Bentuk yang banyak menyebar adalah Jiharbagh (kebun empat), ini bentuk utamanya, bisa ditiru dan diubah sesuai luasannya dan lokasi topographinya. Ada di rata-rata tempat menyebarnya taman-taman Islam.

04. Emma Clarke (Arsitektur taman Islam). Berikut yang disebutkan Emma tentang gambaran Surga Firdaus sebagaimana yang dipahaminya dalam Islam:

  • Tempat duduk
  • Para pelayan yang indah bak mutiara
  • Suara dan saling sapa yang indah
  • Tempat tanpa iri dan dengki
  • Cuaca yang baik
  • Tenda, bantal, alas dan pakaian dari sutera
  • Tak mengenal lelah
  • Buah yang melimpah
  • Khamr yang tidak memabukkan
  • Ini semua balasan atas kebaikan di dunia

Menurut Beliau ada dua unsur yang harus ada di Surga Firdaus dalam Islam, yaitu:

Pertama Air – Beliau mengatakan “Kami jumpai bahwa Surga Firdaus dalam Islam bukan hanya kesenangan dan keabadian saja. Tetapi tempat berlindung dan tempat kembali juga. Tempat yang terlindungi dan aman, jauh dari kegaduhan dunia luar. Tetapi kalimat yang banyak dipakai (lebih dari 30 kali) adalah:
(جنات تجري من تحتها الأنهار). Pengulangan kalimat ini memberikan rasa ketenangan. Ketika seseorang memejamkan kedua matanya, dia bisa membayangkan sedang berada di dalam sebuah kebun yang mengalir di dalamnya air.

Selain menurut pendapat Emma Clarce, di Al Qur’an Ust. Budi menyebutkan ayat tentang air di surga:

dan air yang tercurah (Qs. Al Waqiah: 31)

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Qs. Al Baqarah: 265)

Kedua Naungan di sini Ust. Budi menambahkan beberapa ayat yang membahas naungan di surga,

Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.
(Qs. Al Insan: 14)

dan naungan yang terbentang luas (Qs. Al Waqiah: 30)

Emma Clarke pun memberikan penjelasan tentang angka 4 di taman Islam, Beliau berkata, Tak diragukan bahwa pengaturan taman terbagi empat merupakan ciri Islam. Cukuplah penegasan bahwa pembagian empat untuk taman merupakan bentuk asli taman Islam bukan sekadar seni arsitektur atau model yang tepat untuk taman. Tapi ia merupakan cermin untuk hakekat tinggi dan simbol untuk keesaan ketuhanan.

Ust. Budi menegaskan kembali dengan ayat di Al Qur’an

Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi (Qs. Ar Rahman: 62)

(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? (Qs. Muhammad: 15)

Ust. Budi pun memaparkan di Andalusia dahulu satu rumah memiliki satu taman, tentunya selain taman di public area, tidak ada patokan ukuran untuk membuat taman, tidak harus besar, tapi konsepnya menghadirkan surga sebelum surga. Untuk taman di tempat umum dahulu umat muslim memiliki air mancur yang menjadi bagian utama, yang fungsinya:

  • Keindahan pemandangan
  • Keindahan suara
  • Mendinginkan suhu
  • Wudhu
  • Minum manusia dan binatang
  • Pengairan
  • Mengusir serangga di permukaan air

Nah saya kebayang jika air mancur dan taman ini ada di negara kita, khususnya kota besar, nasib penjual air mineral gimana yah… hehe. Lagian Ustman bin Affan aja dulu sumur diwakafin, jaman sekarang malah dibuat industri komersil.

Terimakasih kepada Ust. Budi Ashari dan keluarga besar Kuttab Al Fatih yang membuat kajian wajib khusus Orang tua santri ini terwujud. Semoga keberkahan selalu dilimpahkan kepada kalian semua untuk ilmu yang sangat bermanfaat ini. Aamiin.

C.TE

Back to Top
× Hai, butuh bantuan?